Tika Dhuha mulai tenggelam "Memartabatkan Bahasa dan Sastera Melayu di Persada Dunia" "Pelangi hilang, hujan tak jadi" itulah ayat pertama yang terpacul dari mulut pembentang ini. Mauduknya sudah dasyat. Di PERSADA DUNIA. Mampukah ? Ukur baju di badan sendiri. Berkerut dahi HA memikirkan. Bukan semudah yang disangkakan. Penglibatan menyeluruh ditagihkan. Bicara mauduk dibentangkan oleh A. Rahim Abdullah, pensyarah fakulti penulisan Akedemi Seni Budaya dan Warisan Kebudayaan Malaysia. Katanya, apabila bibir menyebut DUNIA, manusia tidak dapat lari dari GLOBALISASI. Sama ada positif atau negatif globalisasi itu sendiri, bergantung kepada setiap individu. Bagaimana individu melihat kesan globalisasi ini. Realistikkah kita hendak memartabatkan bahasa di persada dunia ??? atau hanya omongan semata. Pada awal bicaranya, sajak "MELIHAT ALLAH" karya budayawan Perlis dideklamasikan : MELIHAT ALLAH Sudah lama tidak membuka tingkap dulu melihat pelbagai perka...